by

“Bank Ikan” Jaga Laut Wakatobi hingga Dapat Penghargaan dari New York

Untuk menjaga kelestarian ekosistem alam berkelanjutan, masyarakat Desa Kulati, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara menciptakan bank ikan. Dahulu, para nelayan melakukan pengeboman di laut demi memperoleh banyak ikan dengan cara mudah. Namun, cara yang dilakukan banyak nelayan ini justru merusak ekosistem laut. Terumbu karang yang menjadi rumah bagi makhluk laut, terutama ikan, ikut hancur dan rusak.

Persoalan ini juga dihadapi masyarakat Desa Kulati. Mereka bahkan menghadapi krisis ketersediaan ikan pada periode tahun 1999 hingga 2006. Tak ingin berlarut dan terpuruk dalam kondisi itu, seorang anggota Komunitas Nelayan Tomia (Komunto) bernama La Asiru awalnya membuat sistem zonasi untuk mengembalikan kekayaan lautnya. Baca juga: Sepenggal Cerita Penjaga Alam Wakatobi, Kakek La Asiru Ciptakan Bank Ikan Sistem zonasi ini dibuat dengan tujuan untuk menjaga kelestarian dan potensi ikan di Tomia kembali berlimpah.

Sistem zonasi yang dimaksud adalah melarang nelayan untuk menangkap ikan di beberapa wilayah yang telah ditentukan, dalam satu musim. Namun, hal ini justru membuat sebagian masyarakat merasa kehilangan mata pencarian dan menganggap sistem zonasi itu membatasi mereka untuk bernelayan. “(Sistem) Zonasi itu belum pernah membunuh orang, zonasi itu bukan membatasi, tapi dijadikan pasokan pangan di musim (angin) timur,” kata La Asiru yang akrab disapa Bapak Tua itu. Sementara, di musim peralihan ataupun musim angin barat, masyarakat yang ingin menangkap ikan harus mencari zona atau wilayah lainnya di lautan.

Lantas kenapa beralih ke Bank Ikan? Dengan kondisi keresahan masyarakat tersebutlah, Bapak Tua, kakek berusia 81 tahun itu bersama masyarakat lainnya melakukan musyawarah kembali dan merubahnya menjadi Bank Ikan. “Penjelasan (zonasi) itu tidak mempan. Jadi diubah namanya, jadi Bank Ikan,” kata dia. Bank Ikan juga dimaksudkan untuk menyebutkan kawasan atau titik wilayah penangkapan ikan yang dilindungi areanya dan dilarang orang mengambil ikan di kawasan itu sampai musim arah angin berganti.

Pelarangan bagi seluruh warga mengambil ikan di Bank Ikan tersebut berlaku pada periode musim angin barat dan peralihan. Pada periode kedua musim ini, dianggap masih banyak tempat atau titik penangkapan ikan lainnya di lautan mereka. Dengan harapan, pelarangan menangkap ikan di periode musim angin barat, dapat membuat ikan-ikan di Bank Ikan berlimpah pada musim angin timur. Masa periode musim angin timur terjadi pada rentang bulan Mei hingga Oktober setiap tahunnya. “Kalau musim (angin) timur tidak bisa mencari ikan. Jadi kita bisa mencari ikan di (kawasan) Bank Ikan,” ujar Bapak Tua. Untuk diketahui, kawasan Bank Ikan berada di laut lepas dengan luas sekitar 32 hektare (ha), dan tanpa ada pembatas atau pagar yang terlihat. Disebutkan La Asiru, masyarakat Desa Kulati memagari kawasan itu dengan kesadaran dan kepercayaan bahwa melanggar aturan yang telah disepakati bersama tentang mengambil ikan di Bank Ikan sebelum waktunya, adalah demi kebaikan mereka bersama.

La Asiru (81) (sebelah kiri) didampingi istri merupakan salah seorang pencetus berdirinya Bank Ikan Desa Kulati. (ANTARA-Muhammad Zulfikar)(antaranews)

“Bank Ikan ini sekaligus akuarium alami. Segala macam jenis ikan ada, jadi seperti di kaca akuarium. Tidak ada pembatas, Bank Ikan itu di laut bebas dipagar dengan kesadaran,” kata kakek pembuat oleh-oleh kue karasi khas Desa Kulati itu.

Kawasan Bank Ikan yang dipilih oleh masyarakat setempat diyakini menjadi rumah bagi beragam ikan di sana. Mereka melihat, kejadian penangkapan ikan memakai alat-alat yang mengancam seperti bom ikan itu, sebagian ikan tidak ikut langsung mati di situ, melainkan hanya pergi dan akan kembali ke kawasan itu lagi saat keadaan membaik. Adapun, jika ada orang yang melanggar umumnya bukanlah warga Desa Kulati, melainkan warga dari wilayah lain.

Orang Sulawesi sendiri dikatakan tidak ada lagi yang melakukan perusakan ekosistem laut di wilayah itu. “Sebelumnya mereka (orang Sulawesi) sendiri dengan sembarangan melakukan pemancingan dan penangkapan ikan. Setelah ada Bank Ikan itu dijaga bersama,” tutur dia. Di Pulau Tomia sendiri hingga saat terdapat lima Bank Ikan yang dikelola masyarakat dengan rincian tiga titik di Kelurahan Waha, satu titik di Kelurahan Usuku dan satu lagi berada di Desa Kulati.

Oleh sebab itu, dengan Bank Ikan ini kebutuhan pangan masyarakat selama musim angin timur yang sulit ikan, masih tetap dapat terpenuhi.

Bank Ikan menangkan penghargaan di New York Konservasi, pengelolaan, pemanfaatan dan sekaligus menjaga kelestarian alam dengan konsep kearifan lokal, dalam sistem Bank Ikan ini mendapatkan penghargaan dari Equator Prize. Penghargaan itu diberikan kepada Komunto pada tahun 2010, dan perwakilannya diundang ke New York untuk menerima penghargaan internasional bergengsi itu. Sementara itu, di dalam negeri sendiri konsep konservasi berbasis kearifan lokal ini juga mendapat apresiasi dari dua Non-Governmental Organization di Indonesia yaitu The Nature Conservation (TNC) dan WWF Indonesia.

Menurut Bapak Tua, penghargaan dan apresiasi yang diberikan itu bukanlah poin utama yang ingin dicapai oleh masyarakat dalam membuat konsep Bank Ikan sedari awal. Melainkan, tujuan utama atau prinsip dasar dari konsep Bank Ikan adalah menjaga keutuhan kekayaan yang alam sekitar mereka miliki, supaya dapat tetap bertahan dan dirasakan manfaatnya untuk generasi penerus di masa yang akan datang. Untuk diketahui, di Desa Kulati sendiri saat ini sudah ada komunitas desa bernama Poassa Nuhada yang menjadi central dan wadah masyarakat berdiskusi dan mengembangkan diri serta potensi wilayah mereka. Bapak Tua juga terlibat di Poassa Nuhada. Dibantu dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), selain menjaga konsep Bank Ikan, masyarakat Desa Kulati juga melakukan berbagai upaya-upaya pelestarian alam yang dapat diambil manfaatnya, selaras dengan kearifan lokal, dan ramah lingkungan atau tidak merusak alam.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “”Bank Ikan” Jaga Laut Wakatobi hingga Dapat Penghargaan dari New York”, https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/30/100000023/-bank-ikan-jaga-laut-wakatobi-hingga-dapat-penghargaan-dari-new-york?page=3.

Penulis : Ellyvon Pranita Editor : Gloria Setyvani Putri