by

Melihat Budidaya Bibit Ikan Koi ala Warga Dusun Ngepeh Ngoro

Ikan koi diminati karena warnanya yang cantik. Tak heran, kalau ikan ini masih diburu pecinta ikan. Meski perawatannya membutuhkan perawatan ekstra.

Arif Rahman, warga Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, adalah salah satu produsen ikan koi yang ada di Kabupaten Jombang. Ia memiliki kolam berukuran sekitar 2 x 4 meter di belakang rumahnya. Kolam itu memang digunakannya Arif untuk budidaya bibit ikan koi.

”Saya dulu tertarik budi daya ikan koi karena melihat warnanya yang cantik dan sering dicari orang,” ujarnya, saat ditemui di kediamannya kemarin (23/3). Kemudian, tiga tahun lalu, dia mulai mencoba budidaya ikan koi. Setelah sebelumnya, budidaya ikan gurami dan sejenis ikan konsumsi lainnya.

”Kemudian mencoba ikan koi, ternyata perawatannya tidak terlalu sulit,” ungkapnya. Hanya saja, kondisi berbalik saat musim penghujan seperti sekarang. Perawatannya cenderung berbeda dengan saat musim panas. Karena ikan yang mempunyai warna cantik tersebut sangat peka dengan perubahan suhu air.

”Sehingga setiap kali hujan turun, air harus diganti dengan baru,” katanya. Bila air tidak segera diganti, maka ikan koi akan mudah terserang cacar maupun jamur. Penyebaran cacar maupun jamur inipun biasanya sangat cepat. Sehingga dengan muda menular ke ikan yang lain.

“Kalau sudah terkena ingsang harus segera diganti dan diberi obat jamur khusus ikan,” beber dia. Karena itulah dia setiap pagi harus membersihkan kolam dan mengganti air yang baru. Dengan kolam yang bersih maka kondisi ikannya terjada dan sehat.

Sedangkan makanan ikan koi sendiri, lanjut Arif,  sejenis makanan palet ikan khusus berprotein tinggi. Sehingga, warna ikan koi akan semakin bagus. “Kalau makannya bagus, warna ikan juga akan semakin bagus, karena ikan koi diburu karena warnanya,” terang dia.

Jenis ikan koi yang dibudidayakan Arif adalah koi showa dan koi sanke. Hanya saja, koi yang paling diburu warnanya polos. Meski berukuran kecil, ikan ini tetap mempunyai warna yang bagus dan akan tetap dibeli konsumen. ”Biasaya polos yang paling diburu, makanya kalau beli konsumen bisa memilih warna sesukanya,” ungkapnya.

Untuk bibit ikan ini dirinya menjual dengan harga Rp 1.500 sampai Rp 2.000 ribu per ekor dengan ukuran 5 sentimeter. ”Koi bisa siap jual dari larva hingga menjadi berukuran 5 cm itu sampai dua bulan,” bebernya. Penjualan yang dilakukan saat ini  masih mengandalkan media sosial. Disamping pelanggan yang datang sendiri.

”Minimal pembelian harus di atas 50 ekor, saya setiap bulan bisa menjual ribuan ekor, karena bergantung pesanan,” pungkasnya. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

20 + five =

News Feed